Migrasi dan transisi TV Analog ke TV Digital

Pelaksanaan migrasi dari siaran analog ke sistem digital pada umumnya dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap transisi dan cut-off. Pada tahap transisi, siaran analog dan digital siaran dilakukan secara bersamaan, sebelum mengganti seluruh perangkat ke sistem digital. Pada tahap ini agar TV analog dapat menerima sinyal digital dengan kualitas yang baik dengan perangkat tambahan berupa set top box. Sedangkan pada tahap cut off, nantinya semua siaran televisi analog benar-benar dihentikan sehingga tidak dapat diterima lagi oleh masyarakat.

Untuk stasiun televisi yang sudah mapan di ranah siaran analog, masa transisi atau migrasi dapat dimanfaatkan untuk membangun citra yang baru. Ini dikarenakan berbagai sumber daya yang telah dimiliki dapat dipergunakan kembali dalam siaran digital sehingga tidak diperlukan dana yang besar untuk pembangunan infrastruktur. Dengan demikian, stasiun televisi dapat memusatkan perhatianya untuk meraih jumlah pemirsa yang diinginkan dengan brand baru yang dibuat sesuai dengan siaran digital yang dilakukannya. Hal semacam ini telah dilakukan stasiun-stasiun televisi di negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Di Indonesia, dalam rangka merancang langkah-langkah strategis dalam migrasi siaran analog ke digital, dibentuk tiga kelompok kerja yang salah satunya adalah Kelompok Kerja Teknologi Peralatan Penyiaran Digital yang bertugas menyiapkan standardisasi perangkat penyiaran digital terestrial. Setelah standar itu nantinya ditetapkan, langkah penting yang harus diambil oleh Pemerintah adalah menunjukkan keberpihakannya terhadap industri dalam negeri yang memiliki kapasitas untuk membuat set top box (STB) sesuai standar yang telah ditentukan. Jika muncul keraguan terhadap produk dalam negeri ini, bisa ditekan dengan memberikan rekomendasi Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga bisa memberikan perlindungan pada konsumen.

Proses transisi dari analog ke digital menuju pada saat dihentikannya siaran analog (analog switch-off). Analog Switch Off (ASO) sudah dilakukan secara total di banyak negara, antara lain Amerika Serikat (12 Juni 2009), Jepang (24 Juli 2011), Kanada (31 Agustus 2011), Inggris dan Irlandia (24 Oktober 2012), Australia (2013). Indonesia menetapkan ASO secara nasional pada 2018. Namun demikian, ASO akan dilakukan sebelumnya secara bertahap di kota-kota besar yang telah lebih dulu tercover siaran TV Digital. Seperti kota-kota di Jawa, rencananya ASO dilaksanakan pada 2015 setelah hampir seluruh populasi terjangkau dan sudah menonton siaran digital.

Berjalan mulus tidaknya proses migrasi hingga ASO tergantung pada dukungan seluruh pemangku kepentingan. Kesadaran masyarakat mau membeli STB sendiri untuk berpindah dari menonton siaran TV analog ke digital sangatlah penting. Operator multipleksing TV Digital memang menyediakan STB sebagai bentuk komitmennya mendukung program migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital. Namun jumlahnya terbatas dan pembagiannya juga membutuhkan waktu yang cukup lama serta kriteria penerima harus sesuai ketentuan. Pemerintah juga mendorong pabrikan set top box lokal untuk memproduksi STB yang berkualitas dengan harga jual terjangkau masyarakat luas.

Keberpihakan pemerintah terhadap industri akan berbuah pada munculnya produk STB produksi dalam negeri yang berkualitas baik dan dengan harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat dibanding produk serupa dari luar negeri. Selain itu, penggunaan standar SNI juga akan mencegah pasar dibanjiri oleh STB dari luar negeri dengan harga yang lebih murah namun kualitasnya dpertanyakan. Lebih lanjut, bisa pula dilakukan kerjasama dengan pihak operator siaran agar hanya STB buatan dalam negeri yag bisa menangkap siaran mereka. Intinya, masa transisi dan migrasi dari siaran analog ke digital juga membawa potensi pertumbuhan industri elektronika di dalam negeri jika terjadi koordinasi yang baik di antara pihak terkait.

Comments are closed